Awasi BOS, Minta Rp 400 Juta


Dispendik Terjunkan 100 Pengawas

SURABAYA – Hanya untuk mengawasi dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional pendidikan daerah (bopda) pada 2009, ternyata jumlah anggaran yang diminta Dispendik terbilang lumayan besar. Yakni, mencapai Rp 400 juta.

Kepala Bidang Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan (P3) Dispendik Tetty Rachmi Wulan menilai jumlah dana itu masih pantas. Sebab, tahun depan, jumlah sekolah yang diawasi meningkat daripada tahun sebelumnya. ”Bopda yang menunggu PAK itu kan juga diperuntukkan bagi SMA dan SMK. Otomatis sekolah yang diawasi bertambah,” ujarnya.

Dulu, kata dia, hanya SD dan SMP yang mendapatkan kucuran dana bantuan operasional tersebut. Dengan penambahan SMA dan SMK itu, tentu ratusan sekolah harus diawasi Dispendik. Untuk kepentingan pengawasan tersebut, Dispendik akan menyebar para pengawas yang jumlahnya mencapai 100 orang.

Para pengawas tersebut akan disebar ke sekolah-sekolah guna mengevaluasi dan mencari informasi adanya penyelewengan dalam penggunaan anggaran yang diberikan pemerintah itu. Baik dari pemerintah pusat (APBN) melalui BOS maupun pemerintah daerah (APBD) melalui bopda.

”Nah pengawasan itu tidak dilakukan sekali saja dalam setahun, tapi sekitar tiga bulan sekali. Pengawasan itu kan butuh transpor,” ujarnya. Transpor ke ratusan sekolah itulah yang membuat anggaran menjadi besar.

Dalam pengawasan, tiap pengawas juga tidak lantas datang dengan tangan kosong saja ke sekolah. Mereka membawa instrumen berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus diisi guru, kepala sekolah, serta komite sekolah. Juga, rencana pengeluaran anggaran serta aplikasi sebenarnya akan dicocokkan.

Dia mengaku, dari pengawasan selama ini, memang ditemukan beberapa data ketidaksesuaian. Jika sampai menemukan hal tersebut, pengawas bakal langsung melapor ke kepala Dispendik. Nanti, kepala dinas membentuk tim untuk meneliti lebih lanjut.

Bentuk hukuman yang diberikan kepada sekolah yang menyelewengkan dana BOS dan bopda tersebut bermacam-macam. Mulai mutasi, dicopot jabatannya sebagai kepala sekolah, hingga diturunkan menjadi guru biasa. Semua kebijakan bergantung pada seberapa besar kesalahan yang dibuat. ”Tapi, tahun ini tidak banyak yang melakukan kesalahan (penyelewengan). Ya, kurang dari sepuluh sekolah,” ujar Tetty.(sha/hud

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 469,976 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: