Puluhan Siswa Mengopi Jawaban sebelum Unas


SURABAYA – Indikasi bocornya soal ujian nasional (unas) kemarin (20/4) terlihat di SMAN 10. Sebelum masuk ujian, puluhan siswa saling mengopi jawaban.

Berdasar pantauan Jawa Pos, para siswa sekolah yang terletak sekitar Jemursari itu tiba sejak pukul 06.30. Mereka berkumpul di warung plus wartel di depan gerbang sekolah. Puluhan sepeda motor juga diparkir di depan warung tersebut. Padahal, mereka sebenarnya sudah bisa masuk dan memarkir sepeda di dalam areal sekolah.

Bangku di warung itu dipenuhi siswa. Bukan memesan makanan atau minuman, mereka sibuk membuat catatan-catatan kecil. Ukurannya kira-kira sebesar pas foto. Di dalamnya mereka menulis nomor soal serta jawabannya. Sesekali ada siswa yang nyeletuk. ”Eh, iki cocokno ambek soale (cocokkan dengan soalnya, Red),” ungkap salah seorang siswa putri.

Setelah rampung, para siswa itu langsung memasukkan contekan itu ke saku baju, lipatan kemeja, atau beberapa tempat lain. Bahkan, ada beberapa yang menempelkan double tape di kertas tersebut. Entah mau ditempel di mana.

Itu berlangsung hingga sekitar pukul 07.00. Pada jam tersebut, mereka masih sibuk tukar-menukar jawaban. Beberapa memberikan kode untuk mencocokkan dengan soal yang bakal mereka terima. Sebab, pada satu kelas, memang ada dua soal yang berbeda. Mereka baru menghambur ke sekolah sekitar pukul 07.25.

Saat memasuki sekolah, siswa diminta mengumpulkan handphone pada tas kresek. Meski begitu, pemeriksaan tampak tak total. Sebab, ketika masuk kelas, mereka tidak lagi diperiksa satu per satu.

Saat dikonfirmasi, Kepala SMAN 10 Sukron menyatakan tidak mungkin ada kebocoran soal di sekolahnya. Menurut dia, soal tersebut belum dibuka dan baru diambil paginya. ”Peluang untuk kebocoran itu kecil sekali. Kalaupun ada, mungkin hanya 0,01 persen dan itu di luar wewenang saya,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Surabaya Sahudi yang kemarin menyidak sekolah tersebut juga menyatakan tidak ada kejanggalan. Sekolah lain, MAN Bendul Merisi dan SMKN 3, juga wajar-wajar saja. ”Semuanya dijalankan sesuai dengan aturan yang ada di pos,” katanya.

Sementara itu, di antara 32.087 peserta unas yang terdaftar, ada beberapa peserta yang tidak ikut. Untuk jenjang SMK, ada empat siswa yang sakit, satu orang meninggal, dan 73 orang di antaranya tidak hadir tanpa keterangan. Untuk siswa SMA, ada empat siswa yang sakit. Namun, tiga di antaranya mengikuti unas. Lalu, 27 siswa absen tanpa keterangan dan keluar dari sekolah 26 siswa.

Polwil Jamin Soal Unas Tak Bocor

Polwiltabes Surabaya menjamin tak ada kebocoran soal unas. Terutama saat disimpan di Polri. Bahkan, dalam pengawalan distribusi sekalipun.

Hal itu diungkapkan Juru Bicara Polwiltabes Surabaya AKBP Sri Setyo Rahayu. ”Sejauh ini, semua proses masih baik-baik saja. Artinya, belum ada satu pun indikasi kebocoran. Selama ada polisi, kami jamin tak bocor,” kata perwira yang akrab dipanggil Yayuk tersebut.

Yayuk bahkan mengatakan, pihaknya juga mengeluarkan sayembara bagi siapa saja yang memberikan informasi soal kebocoran. ”Ada hadiah sangat menarik untuk sang whistle blower (informan, Red),” ujarnya. Selain mendapatkan hadiah, Yayuk menjamin kerahasiaan identitas si pemberi informasi.

”Kami concern sekali terkait pengamanan soal. Kendati sejauh ini belum ada indikasi kebocoran, tetap saja kami mewaspadainya,” urai perwira dengan dua mawar di pundak tersebut. ”Kami berharap feed back dari masyarakat,” imbuhnya. Dia menambahkan bahwa hadiah tersebut baru diberikan setelah informasi yang bersangkutan ditindaklanjuti dan kemudian terbukti.

Di bagian lain, soal-soal unas SMP rencananya siang ini diambil dari percetakan, kemudian disimpan di aula Bhara Wira Sasana Mapolwiltabes Surabaya. Setelah soal-soal itu dimasukkan ke dalam aula, gedung tersebut disegel. Tidak hanya pintu, tetapi juga jendela.

Selain disegel, setiap pintu menggunakan kunci ganda yang berbeda. ”Satu dipegang dinas pendidikan, satu lagi kami pegang. Jadi, baru bisa terbuka setelah dua-duanya ada. Kami tak bisa membuka sendirian, dinas pendidikan pun tak bisa,” jelas mantan Kasi BPKB dan STNK Ditlantas Polda Jatim tersebut. Tak hanya itu, masih ada lagi TPI (tim pengawas independen) yang mengawasi semua proses tersebut.

Sesuai jadwal, dua hari sebelum pelaksanaan unas, soal-soal untuk SMP tersebut didistribusikan ke sub rayon masing-masing. Sama seperti yang di polwil, soal-soal yang disimpan di polsek pun diamankan dengan cara serupa. ”Yakni, disegel dan diberi kunci ganda. Membuka ruangnya pun harus bersamaan,” kata perwira yang sehari-hari menjabat sebagai Kabag Binamitra Polwiltabes Surabaya itu.

Untuk lebih menjamin netralitas, Yayuk mengatakan bahwa polisi tak mau tahu soal dengan kode-kodenya. ”Artinya, kami tak tahu soal dengan bendel berkode tertentu untuk SMA atau SMK atau untuk soal dengan mata pelajaran apa. Ini untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan,” tegasnya. (sha/ano/dos)

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,142 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: