Trafficking dan Prostitusi di Sulawesi Utara – Episode II


Anak Kita Mati di Jayapura

TRAFFICKING merupakan salah satu masalah besar di Sulawesi Utara. Pihak kepolisian dan LSM memperkirakan jumlahnya lebih dari 300 kasus setiap tahun dan melibatkan lebih dari 500 perempuan. Termasuk sulit mengatasi masalah ini karena tidak ada sindikat yang jelas dan ada banyak cara untuk mengakali aturan atau pengawasan.

Dengan tipu daya, terutama lewat tawaran kerja, gadis-gadis Manado yang terkenal cantik itu pun di-trafficking ke berbagai wilayah lain di Indonesia. Mulai Jakarta, sampai Jayapura dan bahkan mancanegara.

Entah berapa banyak keluarga yang telah dilukai oleh masalah ini. Salah satu yang paling sakit, mungkin, adalah Frida (bukan nama sebenarnya) dan keluarga. Anak gadisnya, Rika (juga nama samaran), “dijual” tantenya sendiri di Jayapura. Sebelum sempat diselamatkan, Rika terburu meninggal dunia karena penyebab yang tidak jelas juntrungnya. Waktu itu, Rika masih berusia 15 tahun. Dia baru saja lulus SMP.

Bagi Frida, apa yang menimpa Rika terus mengganjal di hati. Sejak meninggalnya Rika pada Juli 2005, dia sebenarnya ingin sekali berbagi cerita. Hanya, dia juga tak tahu harus bercerita kepada siapa dengan cara bagaimana.

Untuk wawancara ini, harus ada jadwal khusus yang dibuat secara sembunyi-sembunyi. Sang suami tak pernah memberi izin kepada Frida untuk memberikan testimoni kepada siapa pun. “Suami malu dang, kalau saya cerita ke luaran. Karena tua (bude, Red) sendiri yang menjual anak,” ucapnya.

Cerita sedih itu bermula ketika mertua Frida dalam kondisi kritis pada Mei 2005. Menyesuaikan keinginan orang yang hendak meninggal, anak-anak mertua Frida (termasuk suami Frida) di Manado mengumpulkan seluruh anggota keluarga.

Salah satu yang datang adalah Tina (nama samaran), kakak perempuan suami Frida yang sudah 15 tahun tidak bertemu. “Untuk bisa meneleponnya, kami harus melacaknya lama. Kami tak tahu dia (Tina, Red) kerja di mana, dan apa pekerjaannya,” cerita Frida.

Setelah tiga hari bertanya sana-sini, Frida akhirnya berhasil menghubungi Tina. Dua hari kemudian, Tina pun datang ke Manado. Dia tiba bersamaan dengan meninggalnya mertua Frida.

Petaka bermula setelah urusan pemakaman dan perkabungan selesai. Tina lantas meminta izin kepada Frida dan suami. Tina ingin membawa anak gadis mereka, Rika, jalan-jalan ke Jayapura. Bukan hanya itu, Tina sebenarnya juga minta agar Frida dan suami “melepas” Rika.

”Saya punya usaha restoran di Jayapura. Sekalian membantu dan saya sekolahkan,” ucap Frida menirukan ucapan Tina.

Semula Frida mengaku sempat ragu-ragu. Sebab, saat datang ke Manado, Tina sama sekali tidak terlihat seperti wirausahawan yang sukses. “Pas ke sini (Manado, Red) saja, beberapa kali dia pinjam uang ke saudara. Bagaimana mau percaya dia bisa menyekolahkan Rika,” katanya.

Tina ternyata tidak hanya mengajak Rika. Dia juga mengajak saudara-saudara perempuan yang lain. Tina juga terus merayu agar mereka mau diajak ke Jayapura. Suami Frida pun luluh.

“Sudah jo. Dikasih pasiar (liburan, Red), biar jalan-jalan,” ucap sang suami, yang kemudian diikuti anggukan dengan nada enggan oleh Frida. Rika pun diberi izin ikut Tina. Dengan catatan, hanya untuk sebulan, sekalian menghabiskan liburan panjang.

Rika berangkat pada awal Juli, menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Bitung. Hari keberangkatan Rika itulah kali terakhir Frida dan sang suami melihat buah hati mereka.

Seharusnya perjalanan memakan waktu sekitar empat hari. Setelah empat hari itu, yang terjadi hanya kecemasan demi kecemasan. Setiap kali menelepon tak pernah diangkat. “Ada nada sambung, tapi tak pernah diangkat. Kalaupun diangkat, tidak ada jawaban,” tutur Frida.

Yang dimaksud Frida, telepon diangkat, tapi tak sengaja. Hanya terdengar suara latar belakang.

Frida mengaku sudah sangat cemas. Bayangan soal anaknya dipekerjakan menjadi macam-macam kian menguat. Sebab, cerita tentang anak yang di-trafficking bukan hal langka di Manado.

Kontak pertama dari anaknya baru terwujud seminggu kemudian. ”Saya ingat. Saat itu sudah larut, sekitar pukul 23.00,” kenangnya.

Namun, kontak yang berlangsung tak lebih dari dua menit itu sungguh membuat Frida lemas. ”Ma, Ma, aduh Ma, kita (saya, Red) ada utang Rp 2 juta?” tanya si anak kepada ibunya. ”Utang dari mana?” sahut si ibu bingung. ”Tak tahulah, pokoknya kita tiba-tiba punya utang Rp 2 juta,” jawab Rika.

Pembicaraan lanjutan membuat Frida semakin lemas. Rika bercerita bahwa begitu sampai di Jayapura, dirinya langsung dibawa ke pub. ”Masih pusing-pusing begitu, Ma. Matua (bude, Red) tak membawa pulang ke rumah, tapi ke pub,” ucapnya.

Ucapan Rika terkesan terburu-buru. Belum sempat ibunya bertanya banyak, Rika sudah memutus hubungan telepon. Malam itu juga Frida keluar rumah dan segera mencari wartel. Dia langsung balas menelepon. Alih-alih menjadi tenang, Frida justru semakin cemas.

”Ma, nanti telepon ulang. Nanti ketahuan,” jawab Rika dari seberang gagang telepon. Rupanya, Rika tadi pinjam ponsel dan minta pulsa temannya.

Dua hari kemudian, sekitar pukul 02.00, Rika telepon. Dia bercerita agak panjang lebar. Dia dijebak dan kini tiap malam harus melayani tamu karaoke dan minum miras, di sebuah kafe di Jayapura. Rika mengaku tak berani keluar, karena memang tak ada keluarga (selain bude yang menjualnya). Rika juga mengaku takut dibunuh.

Mendengar kabar itu, Frida langsung bercerita kepada suami dan keluarganya. Beberapa keluarga langsung pesimistis. Berdasarkan cerita-cerita dan pengalaman orang lain, uang Rp 10 juta pun tak cukup untuk menebus Rika.

Merasa kurang yakin kalau menghubungi polisi, keluarga Frida kemudian menghubungi LSM PIPPA (Pusat Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak). Yang dilakukan LSM itu kali pertama adalah memastikan keberadaan Rika. Ternyata benar. Tiap malam Rika menjadi lady escort di sebuah kafe di Jayapura. Pelan-pelan, LSM itu merancang strategi untuk membebaskan Rika.

Untuk kelancaran rencana, LSM tersebut berpesan kepada Frida dan keluarga. Bila suatu saat Tina menghubungi keluarga, bilang saja pura-pura tidak tahu keberadaan Rika.

Benar, dua hari kemudian Tina menelepon. Dengan berpura-pura tidak tahu, Frida menanyakan keberadaan Rika. Tina sendiri berkilah. ”Kita (saya, Red) di rumah, sementara Rika ada rumah makan. Jaraknya jauh dan sekarang hujan deras,” ucap Tina seperti ditirukan Frida.

Saat itu Frida mengaku sudah tak tahan untuk memaki-maki Tina. ”Namun, saya ingat harus pura-pura tidak tahu supaya Rika bisa kembali dengan aman,” ucapnya.

Belum sempat penyelamatan dilakukan, kabar lebih buruk menyusul. Suatu Senin pada Juli 2005, ada kabar duka dari Jayapura. Luki (nama suami Tina), menelepon Frida dan mengabarkan kalau Rika ada di rumah sakit akibat kecelakaan. Luki bilang, saat Rika naik motor hendak ke pantai, secara tidak sengaja mobil yang dia kendarai menabrak Rika.

Kabar itu tentu membuat panik Frida. Dia pun membulatkan tekad untuk mencari pinjaman uang, segera menjemput Rika di Jayapura.

Belum sempat uang terkumpul, keesokan harinya kabar terburuk tiba. Luki menelepon lagi, mengabarkan bahwa Rika meninggal dunia. Tapi, ada yang berbeda pada cerita Luki. Bila sebelumnya dia mengaku sebagai penabrak Rika, kali ini Luki meralatnya, bilang ada orang lain yang menabrak.

Mendengar itu, Frida sempat histeris. Yang lebih membuat Frida semakin nelangsa, ketika dia berada di Jayapura, hasil visum dan keterangan dari rumah sakit menyebutkan bahwa sebetulnya Rika masuk rumah sakit pada Minggu dan tewas beberapa saat setelah di rumah sakit.

”Artinya, ketika telepon pada Senin itu dang, anak kita (saya, Red) sudah meninggal. Coba dang, orang tua mana yang tak sedih,” tutur Frida dengan suara semakin serak dan mata berkaca-kaca.

Yang membuat Frida semakin sedih adalah urusan untuk membawa kembali jenazah Rika ke Manado. Butuh waktu tiga bulan dan biaya sekitar Rp 25 juta. ”Dipersulit beberapa kali. Bahkan, sampai urusan ke kepolisian di Jayapura. Namun, polisinya lebih membela pemilik kafe dan kakak ipar. Sakit hati betul dang,” kenangnya.

Di kepolisian Jayapura itulah, Frida mengaku terakhir bertemu Tina dan suaminya. Saat itu hadir pula Oscar, nama bos pemilik kafe tempat Rika dipaksa menjadi lady escort.

Dalam pertemuan itu, Frida tentu saja melabrak Tina. Namun, kendati berkali-kali minta maaf, pengakuan Tina menjengkelkan Frida. Sebab, Tina bilang Rika sendiri yang minta kerja sebagai lady escort. Padahal, jelas-jelas Rika sudah bilang kalau dia dijebak dan minta tolong.

”Kita (saya) ini orang miskin dan tak berpendidikan tinggi. Jadi gampang dibodohi,” sesal Frida. Yang lebih mengenaskan, dalam pertemuan itu Frida pun disuguhi kecelakaan versi yang tak pernah dipercayainya. ”Dorang (mereka, Red) bilang kalau anak saya jadi korban tabrak lari. Dan, yang menabrak tak ditemukan. Siapa yang percaya, apalagi sebelumnya Luki bilang dia yang menabrak,” katanya.

Hingga kini Frida mengaku tak tahu persis bagaimana ceritanya Rika bisa mengalami kecelakaan dan bagaimana kronologi kecelakaannya. Jangan-jangan, Rika juga bukan meninggal karena kecelakaan murni. ”Sampai mati, rasanya mungkin tak pernah tahu,” tutur Frida sedih.

Hingga kini Frida mengaku masih merasa menyesal memberi izin anaknya berangkat pada Juli lalu. ”Tapi, siapa yang menyangka, kakak ipar sendiri mau menjahati?” ucapnya. “Seharusnya saya lebih cepat bertindak,” lanjutnya lagi.(kardono setyorakhmadi/bersambung)

Posted in Tokoh & Pristiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,031 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: