Bawaslu Tuding Polisi tidak Miliki Niat Baik


JAKARTA–MI: Badan Pengawas Pemilu menuding kepolisian tidak memiliki niat baik terkait penolakan laporan dugaan pidana pemilu oleh KPU. Pasalnya dalam gelar kasus yang dilaksanakan hingga dua kali di sentra gakumdu, kepolisian mengambil posisi kontra terhadap argumen yang disampaikan oleh Bawaslu.

“Dalam dua kali gelar kasus, sulit mencapai titik temu dengan kepolisian. Kami pikir pertama substansinya tidak tersentuh oleh polisi. Kemudian, kami coba beri pemahaman. Tapi tetap bersikeras bahkan kemudian muncul tuntutan untuk mencari bukti dan itu bukan kewenangan kami untuk mendapat surat,” ujar anggota Bawaslu Wahidah Suaib dalam sebuah seminar di Jakarta, Kamis (23/4).

Wahidah menegaskan bahwa kepolisian telah mengingkari dua hal yakni mengingkari substansi dan prosedur. Secara substansi, ia mengatakan jika sistem pemilu proporsional terbuka yang dijalani sekarang esensinya adalah memberi ruang yang lebih luas kepada caleg. Dengan demikian, akibat pensahan surat suara tertukar dan menjadikannya sebagai suara partai, para caleg yang bertarung kehilangan haknya untuk dipilih dan hal tersebut bertentangan dengan esensi pemilu.

Secara prosedur, MoU Sentra Gakumdu dan UU No 10/2008 tentang Pemilu menegaskan bahwa polisi merupakan lembaga yang menindaklanjuti temuan awal yang diterimanya dari Bawaslu. Menurut Wahidah, Bawaslu telah cukup memberikan bukti permulaan kepada polisi sehingga tidak ada alasan bagi polisi untuk menerimanya.

“Kita tidak memiliki kewenangan untuk membuka kotak suara demi menemukan bukti suara tertukar karena telah disegel. Tapi, jika mereka mau menerima laporan kami, polisi memiliki hak membuka segel kotak suara demi melengkapi barang bukti. Disini, polisi memang pada tidak ada political will yang baik,” paparnya.

Kepolisian juga dinilai menerapkan standar ganda dalam penanganan kasus tersebut. Wahidah beralasan, selama ini, penanganan ratusan kasus laporan Bawaslu di daerah tidak pernah dibuat serumit pelaporan tertanggal 17 April 2009 lalu. Ia mengkhawatirkan, tindakan penolakan polri tersebut dapat menimbulkan preseden buruk dan menjadi contoh yang diikuti oleh daerah. Akibatnya, tambahnya, pengawas pemilu di daerah menjadi trauma.

Atas hal itu, Bawaslu telah mengirimkan surat kepada Kompolnas, Presiden dan Ketua DPR agar ditindaklanjuti secara cepat.

“Kita semangati panwas bahwa pengingkaran ini merupakan tantangan. Sentra gakumdu ini sebenarnya di daerah cukup efektif untuk mengatasi limitasi waktu dalam hubungan lintas lembaga. Polri seharusnya menjadi contoh untuk daerah,” tandasnya.

Sementara itu, anggota Kompolnas Laode Husein berpendapat KPU memang telah melanggar ketentuan pasal 288 UU Pemilu sehingga patut diduga bahwa KPU telah melakukan tindak pidana yang menyebabkan pemilih kehilangan haknya.

Langkah yang disarankan polisi melalui PTUN dianggapnya tidak tepat. Ini karena surat yenag dikeluarkan KPU tidak memenuhi unsur konkrit, mengikat, individual, dan final. Sehingga, saran tersebut dianggapnya sia-sia.

“Polisi juga tidak memiliki alasan untuk menolak laporan yang disampaikan Bawaslu. Kompolnas akan menindaklanjuti surat dari Bawaslu tersebut. Kami akan mengklarifikasi, membuat kajian dan rekomendasi serta melaporkannya kepada Presiden,” urainya. (DM/OL-06)

Posted in Pemilu 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,031 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: