Ratusan Tentara Batalyon 751 Sentani Jayapura Mengamuk


Komandan Sunat Uang Lauk Pauk

SENTANI – Ratusan anggota TNI Batalyon 751 Sentani di Jayapura, Provinsi Papua, mengamuk. Mereka dilaporkan nekat memburu perwira dan merampas senjata di gudang persenjataan. Seorang perwira terluka di kepala akibat dikeroyok anak buahnya. Sejumlah wartawan juga menjadi korban. Kamera mereka direbut dan dirusak. Para tentara juga memblokade jalan dan merazia rumah warga.

TNI-AD menyebut insiden itu adalah demonstrasi yang diselingi aksi pelemparan ke markas. ”Para pendemo mencari komandan (Komandan Batalyon 751 Sentani Letkol Lambok Sihotang, Red) mereka untuk menunjukkan rasa tidak puas. Tapi, komandannya menghindar. Makanya, anak buahnya sempat melempari markas,” ujar Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Mabes TNI-AD Brigjen Christian Zebua kemarin.

Dalam aksi itu para prajurit membawa senjata api. ”Memang anggota di sana memegang senjata, bukan merampas dari gudang,” jelasnya. Dari informasi yang dihimpun Cenderawasih Pos (Jawa Pos Group), insiden itu dipicu oleh kematian seorang anggota Kompi E karena sakit. Namun, jenazahnya dibiarkan beberapa hari, sehingga membusuk tanpa dipulangkan ke kampung halaman. “Dana jatah para prajurit juga kerap disunat komandannya. Jadi, sekarang mereka mengejar para perwira,” ujar salah satu anggota TNI yang berdemo itu.

Sasaran amuk prajurit adalah kantor komandan Yonif 751/BS dan kantor staf intel. Setelah merusak kantor Danyon, para prajurit merusak rumah dinas komandan Yonif 751 dan Wakil Komandan Mayor Inf Raimon P. Simanjuntak. Bukan hanya itu, dua pondok peristirahatan di belakang rumah Lambok Sihotang dan wakilnya juga dibakar.

Aksi tersebut juga diwarnai rentetan bunyi tembakan senapan api laras panjang. Namun, arah tembakannya tidak jelas. Terdengar 21 kali bunyi tembakan pada sekitar pukul 12.00 WIT. Sekitar pukul 16.30 rentetan tembakan terus terdengar di sekitar jalan raya Kemiri, Sentani.

Tentara juga memblokade ruas jalan Mako Yonif 751/BS, tepat di depan Sentani City Square hingga gedung Tabita, Sentani. Sejumlah masyarakat yang hendak memanfaatkan ruas jalan tersebut terpaksa memilih jalan alternatif. Wartawan juga dilarang meliput. Aksi pemblokadean itu berlangsung hingga pukul 16.00.

Beberapa handphone milik warga yang mencoba mengabadikan peristiwa tersebut disita beberapa oknum prajurit. Cenderawasih Pos saat melintasi di depan Mako Yonif 751/BS sekitar pukul 16.00 sempat menyaksikan prajurit lain sedang mengangkat tubuh salah seorang prajurit yang terkapar di tanah. Namun, penyebab dan identitas korban tersebut belum diketahui.

Aksi itu berawal dari puluhan prajurit bujang melakukan aksi mogok tugas Rabu (29/4) sekitar pukul 06.00 Wit, di Kompi A. Aksi itu dilakukan karena uang lauk pauk (ULP) mereka dipotong oleh pimpinan. Saat itu beberapa perwira, termasuk Wadan, mencoba membubarkan aksi tersebut.

Bukannya mendengarkan perintah atasan, mereka malah balik melawan sejumlah perwira tersebut. Situasi menjadi makin kacau. Para tentara itu juga memutus jaringan telepon.

Menurut TNI, ULP itu dipotong untuk iuran atau ongkos pengiriman jenazah Pratu Joko ke Nabire, yang meninggal beberapa hari lalu. Perintah dari Komandan Batalyon 751 Sentani Letkol Lambok Sihotang itu tidak memuaskan para prajurit. ”Beberapa hari lalu ada prajurit yang meninggal. Keluarganya minta jenazah dikirim ke Nabire. Teman-temannya juga mau ikut mengantar,” kata Zebua.

Karena harus mencarter pesawat dan biayanya mencapai sekitar Rp 90 juta, Lambok meminta anggota menanggung 50 persen. ”Karena sudah sepakat, komandan mengira persoalan sudah selesai,” katanya. ”Karena ongkosnya mahal, (jenazah) tidak dikirim. Lalu teman-temannya disuruh patungan 50 persen,” kata Zebua.

Namun, Rabu pagi ternyata sejumlah anggota masih mempersoalkan kebijakan itu. Sekitar satu batalyon (1.000 prajurit) berunjuk rasa seusai apel. Melihat gelagat kurang baik itu, Lambok menghindar. Akibatnya, para prajurit yang tidak puas lalu mengamuk dengan melempari batalyon. ”Jadi, anak buahnya mau menanyakan kenapa mereka harus ikut bayar,” ungkap Brigjen Zebua.

Zebua menegaskan, jenazah Pratu Joko sudah dikirim ke Nabire. Dia juga membantah bahwa jenazah ditelantarkan beberapa hari hingga membusuk. ”Tidak ditelantarkan. Hanya perlu waktu untuk persiapan dan carter pesawat,” katanya.

Kondisi menegangkan itu berangsur normal setelah para prajurit ditenangkan pemimpinnya. ”Situasi sudah kondusif. Sudah ada Pangdam Cenderawasih Mayjen TNI Azmyn Yusri Nasution dan Asintel,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombespol Nurhabri. Menurut dia, prajurit TNI itu beraksi di markasnya sendiri. ”Tidak ada korban dari warga,” tambahnya.

Markas Besar TNI merespons serius demonstrasi prajurit Yonif 751/Sentani. Setiap prajurit yang melanggar disiplin akan diberi sanksi tegas. Terutama anggota yang terbukti bertindak anarkis. “Sampai malam ini (tadi malam) masih diselidiki oleh Pomdam (polisi militer kodam) setempat,” ujar Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen di Jakarta kemarin (29/4).

Sagom mengaku kaget saat mendengar kabar itu. “Awalnya sempat tidak percaya, saya minta dikonfirmasi ulang. Ternyata benar. Ini jelas merusak nama baik dan disiplin TNI,” kata mantan Kadispen TNI-AU itu. Kasus itu, kata Sagom, pasti diusut sampai tuntas. “Akan diselidiki dulu kadar kesalahannya. Sanksinya memang bisa berujung ke pemecatan,” katanya. Untuk rincian kejadian, Sagom meminta wartawan mengontak Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen Azmyn Yusri Nasution. “Beliau sudah di lokasi,” katanya.

Selain itu, Danyon 751/BS Letkol Inf Lambok Sihotang akan dimintai keterangan. Apabila terbukti bersalah, dia akan diproses. Sagom menjelaskan, insiden di Papua itu seharusnya tidak perlu terjadi. “Tentara punya sistem, ada urutan komando. Jadi, tidak ada demonstrasi, apalagi anarkis seperti itu,” katanya.

Otomatis kejadian itu sampai ke telinga KSAD Jenderal Agustadi Sasongko Purnomo dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso. “Untuk detail hukuman masih terlalu dini. Kita tunggu saja penyelidikannya,” kata Sagom. Hingga tadi malam Pangdam Cenderawasih belum bisa dihubungi.

Brigjen Christian Zebua menjelaskan, suasana sudah bisa dikendalikan. “Terakhir, tidak ada perebutan senjata atau kontak senjata,” kata Zebua. Jenderal bintang satu itu juga mendengar laporan adanya perusakan kamera wartawan di lokasi. “Saya bisa jamin prajurit itu akan dihukum tegas. Tidak diperbolehkan merusak, apalagi terhadap wartawan yang dilindungi UU Pers,” kata Zebua.

Hari ini (30/4) Mabes TNI-AD akan menerima laporan lengkap kronologi kejadian. “Sedang dikumpulkan faktanya. Nanti kalau sudah lengkap, akan kami sampaikan ke teman-teman media,” katanya. (jim/rdl/jpnn/iro)

sumber :jawapos

Posted in Tokoh & Pristiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,142 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: