Alexia Nety, Guru Penyandang Tuna Netra Berharap Persamaan Hak


Sering Diremehkan dan Dihindari, Kini Selesaikan S2

TAK seperti guru pada umumnya, yang bisa mengajar dengan baik dan normal. Tapi tidak demikian dengan Alexia Nety, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) A Ruhui Rahayu Jl Pelita. Nety merupakan penyandang cacat tuna netra sejak masih balita.
MESKI memiliki kekurangan pada penglihatan, namun satu yang terlihat dari sosok wanita berusia 33 tahun ini. Yaitu semangat yang luar biasa untuk maju. Meskipun cacat, Nety berusaha untuk sejajar dari segi akademik dengan manusia normal pada umumnya. Bahkan, saat ini Nety sedang menempuh S2 Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di Universitas Mulawarman (Unmul).

“Tuna netra bukan alasan untuk saya maju dan sejajar dengan yang lainnya. Justru, saya mengambil sisi positifnya. Dengan kondisi saya saat ini (tuna netra, Red), justru saya lebih kuat dan tangguh. Karena, disaat orang menghindari dan meremehkan saya, justru saja menjadi lebih berani dan itu saya jadikan sebagai motivasi,” ungkap Nety, saat ditemui di rumahnya Jl Merdeka II No 2, Sabtu, kemarin.

Itulah yang menjadi alasan, wanita Lulusan S1 Universitas PGRI Jogjakarta ini memilih menjadi guru. Ia ingin mengabdikan dirinya sebagai pendidik, khususnya bagi anak-anak yang penyandang cacat.

“Alasan saya menjadi guru, saya tertarik untuk membantu anak-anak yang sama senasib seperti saya. Mereka punya kekurangan, tapi itu tidak boleh menjadi alasan mereka menjadi terbelakang,” kata wanita yang bersekolah di SLB Jogjakarta ini.

Menurut Nety, salah satu hal yang selama ini terjadi di lingkungan penyandang cacat adalah rasa minder. Karena, mereka merasa dihindari dan diremehkan. Padahal mereka juga mampu seperti manusia normal pada umumnya.

“Setiap manusia itu punya kekurangan dan kelebihan. Mungkin, kekurangan penyandang cacat yaitu karena mereka cacat. Tapi, dari segi intelektual dan IQ, mereka juga mampu seperti siswa pada umumnya,” jelas Nety.

Karena itu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada Sabtu, 2 Mei, kemarin. Nety berharap, agar pemerintah bisa memberikan persamaan hak, karena selama ini menurutnya guru penyandang cacat diremehkan. Padahal, SLB sama seperti sekolah pada umumnya. Hanya saja, lebih khusus pembinaanya.

“Saya honor sejak 2001, saya sudah empat kali tes CPNS tapi sulit sekali untuk menembus. Karena yaitu salah satu persyaratannya sehat jasmani dan rohani. Sebenarnya saya sehat, tetapi memang saya punya kekurangan pada panca indera. Saya harapkan, mudah-mudahan ada jatah sendiri untuk penyandang cacat. Karena, jika tidak demikian mau dikemanakan lulusan-lusanan penyandang cacat seperti kami,” tambah Guru Berprestasi Tingkat Nasional ini.

Selain itu, Neti berharap ada persamaan hak antara guru negeri dan guru swasta. Karena selama ini, insentif guru negeri dan swasta berbeda. Negeri lebih besar daripada swasta. Padahal, mereka juga punya tugas dan beban yang sama.

“Saya juga berpesan untuk orangtua yang memiliki anak penyandang cacat, jangan minder. Sekolahkan anak setinggi mungkin, tapi jangan lupa dilengkapi dengan keterampilan agar dewasa kelak mereka bisa diterima di masyarakat,” pungkasnya. (ici)

sumber:sapos.co.id

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,145 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: