Anak-anak SD Ungaran 1 Workshop Bikin Bakpia


Ternyata Lebih Enak Makan Daripada Bikin

Sebagai salah satu oleh-oleh khas kota ini, Bakpia dikenal siapa saja. Namun, membuat bakpia belum tentu hal yang bisa dilakukan semua orang, apalagi anak-anak. Belajar membuat bakpia, bagi 20 siswa SD Ungaran 1, adalah hal baru yang asyik namun tidak selalu mudah. Jangankan membuat bakpia dengan bentuk bulat yang seragam, menakar isi kacang hijau saja ternyata sulit.

LUTFI RAKHMAWATI, Jogja

—————————————————-

Membuat bakpia ternyata susah! Setelah satu jam berusaha membuat bulatan bakpia yang sempurna, Antonio Rafael menyerah. Masker yang dipakainya selama membuat bakpia dilepas. Dia juga enggan memamerkan bulatan bakpia hasil buatannya. Berkali-kali, dia menutupi hasil karyanya dengan tangan saat teman-temannya datang melihat.

“Malu. Bakpianya jelek-jelek. Tapi kalau yang bikin mereka (pegawai Djava Bakpia) bagus. Lihat punya mereka saja,” tuturnya. Bocah kelas dua SD berbadan tambun itu menyatakan bakpia lebih sulit dibuat dari yang dia perkirakan. “Aku kira asal bikin buletan gitu. Ternyata susah..” ujarnya.

Meski dia tidak pede dengan bakpia buatannya, dia tetap “mengumpulkan” bakpia itu untuk dipanggang bersama dengan bakpia teman-temannya. Sambil menunggu bakpia matang, dia sesekali menggumam. “Bentuknya aneh, tapi rasanya tetap sama kan?” paparnya.

Setelah bakpia matang, anak-anak kelas satu dan dua SD itu bersorak gembira. Segera, mereka merubung bakpia yang baru matang. Satu nampan bakpia buatan mereka tidak seragam bentuknya. “Wah, ternyata sama enaknya!” seru Rafael senang.

Beberapa wali murid yang ikut mendampingi putra putrinya juga serius melihat proses pembuatan bakpia. Tidak hanya putra-putri mereka yang awam membuat bakpia, mereka juga. “Saya juga nggak bisa buat. Jadi sekalian belajar,” tutur Yulianti Pramadewi. Ibunda Syahnaz Prama ini berdiri di belakang sambil menenteng kamera.

Dia mengaku senang mendampingi putrinya dalam kegiatan outdoor seperti ini. Sebelum membuat bakpia, anak-anak SD ini mengunjungi Kasongan untuk membuat keramik. “Kalau bisa sering-sering sekolah bikin acara seperti ini. Selain anak tidak bosan, ini akan terus diingat oleh anak-anak sampai mereka besar,” tambahnya.

Sesekali, dia memotret putrinya yang masih mengenakan masker usai membuat bakpia. Sang putri juga merasa senang dengan aktivitas ini. Menurutnya, belajar membuat bakpia lebih menyenangkan daripada mengerjakan PR. “Senang. Apalagi pas sudah matang,” paparnya sambil menyodorkan satu kotak bakpia hasil buatannya.

Kotak bakpia yang dipakai juga bukan kotak yang biasanya. Ukurannya lebih kecil. “Ini kami buat khusus untuk adik-adik yang hari ini belajar membuat bakpia,” tutur salah seorang pekerja.

Di antara 20 siswa yang datang, terdapat putra Cak Nun dan Novia Kolopaking, Jembar Tahta Aunillah. Sambil mengembalikan masker yang telah dipakainya, dia berseru singkat, “Hari ini aku bisa bikin bakpia!”. Hari itu, tidak hanya Obal, begitu teman-temannya memanggil Jembar, yang senang. ***
s:jawapos.co.id

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 469,901 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: