Banyak Sekolah yang Tidak Layak


Potret Buram Peringatan Hardiknas

PONOROGO – Proses belajar mengajar (PBM) di SDN Watu Bonang 03 Kecamatan Badegan memprihatinkan. Puluhan siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu terpaksa tidak mengenakan alas kaki yang layak. Mereka menggunakan sandal jepit sebagai pengganti sepatu.

Kondisi itu setidaknya mampu menjadi cermin dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), yang jatuh tepat hari ini (2/5). Kemiskinan yang terus menggerogoti berimbas panjang untuk masa depan anak. Program pemerataan pendidikan yang seharusnya dienyam, kurang mampu dinikmati secara maksimal.

Bekti salah seorang siswa kelas III mengakui, tidak ada biaya untuk membeli sepatu. Mengingat, dia berasal dari keluarga miskin. Kedua orang tuannya hanya mengandalkan buruh tani untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Begitu pula dengan biaya sekolah yang dikeluarkan setiap bulannya.

Karena faktor itulah, Bekti hanya mengenakan sandal jepit setiap mengikuti PBM. Apalagi, tidak ada peraturan mengikat yang mewajibkan siswa harus mengenakan sepatu. ”Orang tua tidak mampu membelikan sepatu. Biaya sekolah saja sudah merasa berat,” kata Bekti, saat dikonfirmasi koran ini.

Hal senada juga diungkapkan Burhanuddin salah seorang tenaga pendidik. Hampir 25 persen dari jumlah total 199 siswa yang menuntut ilmu di sekolah terpencil tersebut, mengenakan sandal jepit saat PBM.

Alasannya, mereka berasal dari keluarga tidak mampu. Sehingga pihaknya memberi toleransi longgar dalam kegiatan PBM. ”Ya kami menyadari bila anak-anak yang belajar disini itu sebagian berasal dari keluarga susah,” ungkapnya.

Menurut dia, tidak hanya dari faktor siswa saja yang memprihatinkan. Infrastruktur bangunan pun jauh dari layak. Lantai masih beralaskan tanah. Tembok bangunan sekolah belum dilapisi pasir semen sama sekali. Begitu pula tidak memiliki atap plafon. ”Saat menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2006, hanya mampu digunakan rehabilitasi ruang kelas III saja. Sisanya belum tersentuh sama sekali,” paparnya.

Sementara, Dwikorahadi Meinanda Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) setempat sempat mengutarakan masih banyak infrastruktur bangunan sekolah yang tidak layak melaksanakan kegiatan PBM. Khususnya untuk kawasan terpencil. ”Kami belum bisa merinci secara pasti berapa jumlahnya. Hanya saja, itu nantinya akan dilakukan rehabilitasi secara bertahap,” jelasnya.

Sebagai langkah awal, pihaknya lebih memprioritaskan DAK bidang pendidikan dalam menyelesaikan permasalaan tersebut. Untuk itu, penyaluran anggaran dari APBN tersebut harus tepat sasaran. ”Kami memprioritaskan pada kondisi bangunan yang mengalami kerusakan parah,” pungkasnya.(dip/eba)

s:jawapos.co.id

Posted in Pendidikan
One comment on “Banyak Sekolah yang Tidak Layak
  1. affendy says:

    turut prihatin dgn apa yg terjadi pd desa watubonang …. mdh2an semua cepat teratasi and Pemda setempat cepat bisa mengambil tindakan untuk melakukan peninjauan dan perubahan …..cuz kampung halamanku juga tidak jauh dari tempat itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,213 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: