Hardiknas Berharga Mahal


PROBOLINGGO – Alun-Alun Kota Probolinggo kemarin (2/5) suasananya meriah. Dinas Pendidikan setempat memperingati hari pendidikan nasional (hardiknas) plus peringatan hari otonomi daerah dengan melibatkan ribuan bocah TK dan SD.

Mulanya, sekitar pukul 07.30, ada 2.000 bocah dari perwakilan TK-TK se-Kota Probolinggo yang memeriahkan alun-alun. Mereka menampilkan tari boneka masal. Mereka tampil seragam dari baju sampai bonekanya.

Lalu sekitar pukul 07.45, giliran 1.800 bocah dari perwakilan SD/MI se-Kota Probolinggo yang tampil di alun-alun. Para bocah itu menampilkan poco-poco masal. Para bocah SD ini juga tampil seragam dari celana training, kaos dan pompom. Walau saat tampil matahari sudah cukup panas menyengat, para bocah itu tetap bersemangat.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Proboliggo Maksum Subani mengatakan, tahun ini merupakan tahun pertama peringatan Hardiknas dijadikan satu dengan peringatan ke 13 pelaksanaan otnomi daerah. Ia berharap tahun-tahun kedepan acara serupa juga bisa digelar kembali.

“Kami sengaja memilih tari boneka dan senam poco-poco dalam perayaan tahun ini. Dengan tari boneka, akan mengajarkan rasa kasih sayang kepada anak-anak yang masih belia,” kata Maksum Subani.

Sementara, dengan diadakannya senam poco-poco, diharapkan bisa semakin memasyarakatkan olahraga kepada para pelajar tingkat SD. Maksum menilai olahraga merupakan salah satu faktor yang penting untuk mewujudkan perkembangan bangsa. “Dengan berolahraga, bangsa bakal mempunyai generasi yang sehat,” bebernya.

Para peserta dalam acara itu, kata Maksum, merupakan perwakilan dari masing-masing sekolahnya. Tiap TK dan SD diimbau untuk mengirimkan siswanya minimal 10 peserta.

Sayangnya, peringatan hardiknas yang berlangsung tidak sampai satu jam itu berharga mahal. Peserta yang ikut harus membayar. Untuk peserta tari boneka yang diikuti oleh anak TK diwajibkan membayar Rp 75 ribu. Sementara untuk peserta senam poco-poco diwajibkan membayar Rp 50 ribu.

Jika semua bocah TK benar membayar Rp 75 ribu per anak, dengan jumlah total 2 ribu anak, berarti sudah tergalang dana Rp 150 juta. Lalu jika 1.800 bocah SD yang ikut semuanya bayar Rp 50 ribu, maka tergalang dana sebesar Rp 90 juta. Jadi, dari acara itu sudah terkumpul total dana Rp 240 juta.

Untuk apa saja? Maksum Subani menjelaskan, uang kontribusi tersebut digunakan untuk keperluan pementasan. Misalnya untuk senam poco-poco, peserta harus memakai seragam. Nah, duit Rp 50 ribu itu untuk mengganti satu set training dan kaos tersebut.

Sedangkan untuk para bocah TK, duit Rp 75 ribu dipakai untuk ganti seragam, asesoris, make up, serta boneka sendiri. “Tetapi perlu diingat, kami tidak mewajibkan semua siswa untuk ikut. Siswa yang mau dan mampu saja yang ikut,” katanya.

Maksum menyatakan, meskipun bayar, tetapi tetap saja siswa cukup antusias untuk mengikuti acara tersebut. “Misalnya di SD Tisnonegaran 2. Mulanya kami jatah 10 perwakilan. Namun kenyataannya yang ikut membludak 30 anak,” jelasnya. (mie/yud)

s:radar bromo

Posted in Pendidikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
May 2009
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,213 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: