Kiat UI Menuju Kampus Bergengsi di Dunia


Samakan Gaji Dosen di Level Asia Tenggara

Selama empat tahun terakhir, Universitas Indonesia (UI) masuk dalam jajaran universitas kelas dunia (world class university). Lembaga internasional Webometrics maupun Times Higher Educations Supplement (THES) memasukkan UI sebagai salah satu perguruan tinggi bergengsi. Apa saja yang dilakukan oleh UI?

REKTOR UI Prof Dr Gumilar Roswila Somantri mengatakan, dua tahun ini prestasi kampusnya memang menanjak. Tak hanya melampaui perguruan tinggi di Indonesia, tapi juga Asia.

UI berhasil menembus 50 besar di Asia, mengalahkan beberapa universitas bergengsi di Malaysia, seperti Universiti Sains Malaysia (USM) maupun Universiti Putra Malaysia (UPM). Termasuk mengalahkan beberapa universitas elite di Jepang. Di Asia Tenggara, UI menempati peringkat ke-6 setelah National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), maupun Universitas Mahidol, Filipina.

Gumilar mengatakan, pencapaian UI didapatkan tidak semudah membalik telapak tangan. Dua tahun ini, pihaknya mereformasi beberapa hal di universitas itu. Salah satunya, memperbaiki sistem remunerasi para dosen.

“Pendapatan dosen kami setarakan minimal selevel Asia Tenggara,” ungkapnya.

UI juga terus membina karir dosen. Ada dua jalur karir dosen. Pertama, dosen pengajar yang diarahkan konsen mengajar. Mereka tetap melaksanakan riset, tapi tidak sepadat dosen peneliti. Kedua, dosen peneliti diberi batas mengajar enam SKS per minggu.

Untuk mengembangkan SDM (sumber daya manusia), UI kerap jadi tuan rumah seminar dan konferensi internasioal. “Itu sekaligus menjadi media publikasi berbagai karya ilmiah mahasiswa dan dosen,” jelasnya. Tiap tahun, dosen dan mahasiswa UI menghasilkan sekitar 10 ribu penelitian. Dari jumlah tersebut, yang berhasil dipublikasikan baru 1.100-1.200 karya. Karena itu, pihaknya terus berupaya memublikasikan berbagai karya yang lahir.

UI pun getol membangun infrastruktur kampus. Saat ini mereka membangun perpustakaan terbesar dan termegah di dunia. Perpustakaan yang dibangun di atas lahan 2,5 hektare tersebut bakal menyimpan 3,5 juta koleksi buku. Menurut dia, perpustakaan itu tak hanya diperuntukkan mahasiswa UI, tapi juga masyarakat umum. “UI kampus yang terbuka bagi semua orang. Masyarakat bebas datang dan berdiskusi,” terang dia.

Bukan hanya itu, UI juga membuka kuliah bebas bagi masyarakat umum. Dia mencontohkan, tak semua ruang kuliah di UI selalu dipenuhi mahasiswa. Di antara 100 persen kursi yang tersedia, rata-rata mahasiswa yang mengisi hanya 75 persen. Sisanya, papar dia, bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luar yang ingin belajar di UI. “Tanpa dipungut biaya. Kami ingin universitas itu seperti namanya. Universitas untuk Indonesia,” cetusnya.

Gumilar menjelaskan, agar eksistensi UI sebagai world class university terjaga, pihaknya akan meningkatkan kekuatan kampus itu. Yaitu, bidang kedokteran dengan penelitian infectious disease maupun herbal medicine. Di bidang science dan engineering, UI fokus meneliti kekurangan pangan di Indonesia.

Agar kualitas kampus tersebut terus menanjak, Gumilar menjalankan empat transformasi. Pertama, mengintegrasikan bidang keuangan, riset, pengajaran, dan infrastruktur. “Kami menyatukan semua keunggulan di setiap fakultas,” ujarnya. Kedua, menjadikan UI sebagai electronic university leading. Ketiga, UI mengupayakan internalisasi. Yaitu, mengubah mindset pengelolaan kampus yang konvensional menjadi modern. Golnya, menjadikan UI sebagai research entrepreneur university. Keempat, mendorong para dosen dan mahasiswa untuk berinovasi.

Dengan berbagai upaya dan kelebihan yang dimiliki, Gumilar menargetkan UI menembus 30 besar universitas terbaik di Asia dan 200 terbaik di dunia dalam kurun waktu tiga tahun ini. “Tapi, semakin cepat terealisasi semakin baik,” ungkapnya.

Kendati demikian, papar dia, bukan berarti tidak ada kendala untuk menggapai semua prestasi itu. Tantangan terberat justru mengubah mindset seluruh civitas academica. “Kami berupaya agar semua orang open mind dan open heart untuk menghadapi perubahan dan menuju kemajuan,” tutur pria kelahiran Tasikmalaya pada 1963 itu.

Sejatinya, jelas Gumilar, tingkat persaingan dalam negeri bukan menjadi tantangan utama. Justru, lanjut dia, perguruan tinggi (PT) di Indonesia harus menatap kompetisi ke luar atau bersama universitas luar negeri. “Kalau saling gontok-gontokan, kita sendiri yang hancur. Karena itu, lebih baik menyiapkan diri untuk bersaing dengan dunia luar. PT di Indonesia bisa meningkatkan keunggulan masing-masing,” sebut bapak tiga anak itu. (kit/kum)

Posted in PTN dan PTS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives
Categories
June 2009
M T W T F S S
« May   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
SEO MONITOR
Blog Stats
  • 470,031 hits

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Join 5 other followers

%d bloggers like this: